Minggu, 12 September 2010

Catatan Kecil Lebaran 1431 H

Pemerintah Republik Indonesia menetapkan 1 Syawwal 1431 H jatuh pada hari Jum'at, 10 September 2010.
Kita -sebagai muslim yang taat pada Allah, Rasul, dan pemimpin- pun merayakan Idul Fitri pada hari tersebut.
Alangkah ni'matnya merayakan kemenangan bersama handai taulan tersayang.

Seperti biasa saya dan keluarga sholat 'Ied di lapangan rumah bersama ratusan jama'ah. Setelah itu layaknya masyarakat di Indonesia, saya bersalaman dengan tetangga demi memohon maaf atas kekeliruan.

selang 1 jam, saya dan keluarga biasa berkunjung ke beberapa tempat 'wajib' di hari pertama, Guru, Orang Tua, dan Besan.

Pada saat berkunjung ke salah satu guru di bilangan Condet lah saya takjub akan ucapan singkat tapi dalam dari seorang guru bernama al Habib 'Umar al Hamid yang tinggal di daerah Pasar Induk, Kramat Jati, Jakarta Timur.

Catatan Kecil Lebaran ini berawal dari sambutan tuan rumah al Habib 'Alwi bin Idrus alaydrus, menantu al Habib 'Umar bin Hud al Attos, yang selalu ramah dan riang pada seluruh tamunya di saat apapun.

Saya dan keluarga tiba di kediaman al Habib 'Alwi lebih awal dari al Habib 'Umar al Hamid, tatkala beliau tiba, al Habib 'Alwi langsung mengajak beliau menuju meja hidangan yang tersedia. Al Habib 'Alwi dengan sigap langsung mengambil piring, mengisinya dengan dua potong besar ketupat, ditambah sayur dan lauk.
Al Habib 'Alwi membawakan piring berisi makanan tadi, sambil berdiri beliau mengiris ketupat menjadi potongan kecil, supaya mudah dimakan.
Al Habib 'Umar takjub dengan perlakuan istimewa tersebut, walaupun perut dalam kondisi penuh, mustahil menolak perlakuan tersebut kecuali harus makan menghabiskan isi piring.
Al Habib 'Umar yang kebetulan duduk bersama saya dan keluarga, berkata dengan santai.
"Subhanallah, ana sudah makan dari beberapa tempat. Perut sudah kenyang, tapi disuguhi lagi. Kalo yang ngasih Habib 'Alwi, ana nyerah. Ga bisa nolak."
Kami pun tersenyum.
Beliau melanjutkan.
"Bayangkan, makan itu ni'mat. Tapi kalo kebanyakan kita gak kuat. apalagi adzab."
Kami terhenyak.
Subhanallah, batin saya. Benar juga ucapan si Habib.
Beliau menambahkan.
"Hujan, suara guntur itu juga ni'mat. Tapi kita gak kuat dengar suara yang begitu keras. Apalagi suara siksa adzab."
Kami pun tambah terhenyak.
Tak sampai pemikiran ku ke arah sana, batin saya.
"makanya jangan maen-maen ama pekerjaan yang mengarah pada murka Allah, pada adzab Allah." pesan beliau.

Selepas itu saya pun merasa ada karunia Allah yang begitu besar mengisi ruang dada. Ni'mat rasanya jika mendapat pencerahan, terlepas bersumber dari apapun itu. Terlebih ini bersumber dari seorang guru yang pernah bermukim di Mekkah demi menuntut warisan Rasulullah.

Semoga catatan kecil ini menjadi sinar penerang api ilmu kita semua.

Selamat Idul Fitri.
Mohon Maaf Lahir dan Bathin.
Taqobbalallaahu minnaa wa minkum.

2 komentar: