Senin, 06 September 2010

Selamat Idul Fitri

Dilakukan orang banyak, belum tentu benar atau bijak
sebaliknya,
Dilakukan orang tertentu, belum tentu salah atau keliru

Berapa banyak sebuah kekeliruan yang dilakukan orang banyak, kemudian menjadi sebuah hal yang lumrah
bahkan dianggap benar.
Berapa sering sebuah kesalahan yang dilakukan orang awam, sekarang menjadi kebiasaan
bahkan berbuah tradisi.

Disinilah peran penting orang berilmu, orang berpendidikan, orang yang tau, ambil bagian memutuskan lingkaran salah kaprah tersebut.

Sebagai contoh,

Menjelang Idul Fitri, yang merupakan satu hari istimewa untuk umat Islam, banyak orang bersilaturrahmi melalui media cetak atau elektronik. Yang disampaikan tidak lain dan tidak bukan adalah ucapan mohon maaf lahir dan batin serta selamat hari raya.
Unsur bahasa tercampur aduk. Dalam hal ini adalah Bahasa Indonesia dan Arab.
Minal 'Aidinal Faizin, ada yang mengucap Minal 'Aidin wal Faizin
tapi ada yang keliru,
mereka mengucap Minal Aidzin wal Faidzin
karena si penerima pesan tak begitu mengerti, dia langsung teruskan pesan tersebut ke orang berikut
sehingga sambung menyambung sampai orang ke sekian, yang pada akhirnya tersebar luas dan menjadi sebuah hal yang biasa.
Tinggallah mereka yang mengerti menjadi "gerah" dengan kekeliruan tersebut.

Yang tidak kalah penting adalah ucapan yang dilakukan para sahabat dari zaman Rasulullah saw. yakni, Taqobbalallaahu minnaa wa minkum, Shiyaamanaa wa shiyaamakum

Yang jelas bukan ucapan:
Selamat Hari Raya
Minal Aakiliin wasy Syaaribiin
Mohon Maaf Nasi Diabisin

Ha". . .

Ayo saling mengingatkan dalam kebaikan.

1 komentar:

  1. hahaha ayah wawa..
    ga papa kok nasi diabisin, asal tidak lupa cuci piring.. :)

    BalasHapus